Yasser Arafat: Wajah Perlawanan Palestina
Yasser Arafat, Palestina--
koranradarseluma.net - Yasser Arafat lahir pada 24 Agustus 1929 di Kairo, Mesir, dengan nama lengkap Mohammed Abdel Raouf Arafat al-Qudwa al-Husseini. Meskipun tempat lahirnya Kairo, Arafat selalu mengidentifikasi dirinya sebagai orang Yerusalem, menegaskan kedekatannya dengan tanah Palestina. Ia belajar teknik sipil di Universitas Kairo, dan selama masa kuliah, ia sudah aktif dalam gerakan nasionalis Arab.
Pada 1959, Arafat mendirikan organisasi Fatah, sebuah kelompok gerilya yang kemudian menjadi kekuatan utama dalam perjuangan bersenjata melawan pendudukan Israel. Fatah melakukan berbagai operasi militer dari luar wilayah Palestina, termasuk dari Yordania dan Lebanon.
Pada 1969, Arafat terpilih sebagai Ketua Organisasi Pembebasan Palestina (PLO). Di bawah kepemimpinannya, PLO menjadi kekuatan politik dan militer utama rakyat Palestina, meskipun sering dituduh sebagai organisasi teroris oleh Israel dan sekutunya.
Arafat dikenal dengan kehadirannya yang khas: mengenakan keffiyeh hitam-putih, pakaian militer, dan selalu tampil sebagai simbol perjuangan. Bagi rakyat Palestina, ia adalah pahlawan nasional, tetapi bagi sebagian besar rakyat Israel, ia dianggap sebagai dalang terorisme.
BACA JUGA:Waspada Curanmor, Ini Cara Efektif Melindungi Kendaraan Anda
BACA JUGA:Angela Merkel: Kanselir Besi di Era Globalisasi
Ia terlibat dalam sejumlah peristiwa penting, seperti: Perang Sipil Lebanon (1975–1990), di mana pasukan PLO bertempur dan menjadi kekuatan politik besar, Serangan Israel ke markas PLO di Beirut (1982), memaksa Arafat pindah ke Tunisia, Dan upaya internasional untuk membentuk negara Palestina yang merdeka. Pada awal 1990-an, Arafat mengubah strategi perjuangan dari perlawanan bersenjata ke jalur diplomasi.
Langkah ini berpuncak pada Perjanjian Oslo (1993), sebuah kesepakatan bersejarah antara PLO dan Israel. Ia berjabat tangan dengan Perdana Menteri Israel Yitzhak Rabin di Gedung Putih, disaksikan oleh Presiden AS Bill Clinton. Arafat pun dianugerahi Hadiah Nobel Perdamaian (1994) bersama Rabin dan Shimon Peres.
Namun, perjanjian itu tak bertahan lama. Banyak rakyat Palestina menilai Arafat terlalu kompromis, sementara kelompok-kelompok ekstremis di kedua belah pihak merusak proses perdamaian. Kekerasan kembali meletus dalam bentuk Intifada Kedua (2000).
Pada tahun 2004, Yasser Arafat jatuh sakit secara misterius dan meninggal pada 11 November 2004 di Paris. Sebab kematiannya masih menjadi perdebatan ada yang menduga diracun, tetapi belum ada bukti resmi yang meyakinkan. Ia dimakamkan di Ramallah, di Tepi Barat, dan hingga kini makamnya menjadi tempat ziarah bagi banyak rakyat Palestina.
Yasser Arafat adalah simbol harapan sekaligus kontroversi. Ia memperjuangkan tanah airnya dari pengasingan, dari medan perang hingga meja diplomasi.
BACA JUGA:John F. Kennedy: Kilatan Harapan di Tengah Perang Dingin
BACA JUGA:Franklin D. Roosevelt: Arsitek Kebangkitan Amerika dan Dunia Baru
