AI Membantu Perempuan Kena Stroke Kembali Bicara Setelah 18 Tahun
--
Koranradarseluma.net - Sebuah terobosan luar biasa di dunia teknologi dan medis baru-baru ini membuka harapan bagi para penyintas stroke parah. Ann Johnson, seorang perempuan asal Kanada yang menderita “locked-in syndrome” selama 18 tahun akibat stroke batang otak, kini kembali bisa berbicara berkat bantuan teknologi kecerdasan buatan (AI) yang dikembangkan oleh peneliti di University of California, Berkeley dan San Francisco.
Locked-in syndrome adalah kondisi langka di mana seseorang sepenuhnya sadar namun tidak dapat menggerakkan tubuh maupun berbicara karena kerusakan pada batang otak. Selama hampir dua dekade, Ann hanya bisa berkomunikasi lewat gerakan mata. Namun semua berubah ketika para ilmuwan memasang implan otak yang terhubung dengan sistem antarmuka otak-komputer (brain-computer interface/BCI) canggih yang dilengkapi AI.
Teknologi ini bekerja dengan menangkap sinyal-sinyal listrik dari otak bagian sensorimotor korteks, wilayah yang biasanya bertanggung jawab terhadap kontrol otot bicara. Ketika Ann membayangkan dirinya sedang berbicara, sinyal-sinyal otaknya diterjemahkan oleh algoritma AI ke dalam bentuk suara yang terdengar seperti dirinya sebelum terkena stroke. Ini bukan sekadar teks, melainkan ucapan audio yang menyerupai suara aslinya.
Salah satu keunggulan dari sistem ini adalah kemampuannya dalam memproses sinyal dengan cepat, mendekati kecepatan bicara manusia normal. Sistem ini memecah sinyal dalam potongan 80 milidetik dan langsung mengonversinya menjadi kata-kata, memungkinkan terjadinya percakapan secara alami. Ini menjadi langkah besar dibandingkan teknologi sebelumnya yang masih bersifat kaku dan tertunda.
BACA JUGA:5 Cara Mudah dan Ampuh, Untuk Melindungi Anak-Anak dari Malaria
BACA JUGA:Krisis Iklim Menggila: Dampak Pemanasan Global, Terumbu Karang Memutih Massal
Tak hanya suara, sistem BCI ini juga terhubung dengan avatar digital yang meniru ekspresi wajah Ann saat berbicara. Avatar ini memperkuat dimensi emosional dalam komunikasi, memberikan kesan seolah Ann benar-benar hadir dalam percakapan. Bagi Ann dan keluarganya, ini lebih dari sekadar alat bantu; ini adalah "kehidupan kedua" yang dikembalikan oleh teknologi.
Peneliti menyebut proyek ini sebagai bagian dari uji klinis jangka panjang untuk membantu penderita kelumpuhan berat, termasuk mereka yang terkena ALS atau kondisi neurologis lain. Mereka berharap teknologi ini bisa disempurnakan dan diproduksi massal agar dapat diakses lebih luas, terutama oleh mereka yang selama ini terpenjara dalam tubuh sendiri.
Ann menjadi peserta ketiga dalam uji coba ini, dan kisahnya menjadi yang paling menonjol karena dia berhasil menggunakan sistem ini untuk berbicara kembali setelah hampir dua dekade. Ketika pertama kali mendengar ulang suaranya sendiri, momen itu menjadi sangat emosional bukan hanya untuknya, tetapi juga bagi tim peneliti yang terlibat.
Kisah Ann Johnson kini menjadi simbol dari potensi besar teknologi ketika dipadukan dengan niat untuk membantu sesama. Dari keterbatasan total menjadi komunikasi yang bermakna, AI dan BCI membuka kemungkinan baru yang sebelumnya hanya ada dalam fiksi ilmiah. Masa depan bagi mereka yang kehilangan suara kini tampak lebih cerah dari sebelumnya.
BACA JUGA:Mengapa Banyak Orang Indonesia Memilih Diam Saat Berbuat Salah?
BACA JUGA:Dari Darat ke Laut: Hubungan Tak Terduga antara Manatee dan Gajah
