Radar Seluma.Bacakoran.co

Kesultanan Tidore, Sang Penyeimbang di Timur Nusantara

Wilayah Kesultanan Tidore--

koranradarseluma.net - Di sisi lain Kepulauan Maluku, berdiri Kesultanan Tidore kerajaan yang tak hanya menjadi saingan utama Ternate, tetapi juga memainkan peran besar dalam menjaga Islam dan kedaulatan di wilayah timur Indonesia. Jika Ternate adalah benteng perlawanan terhadap Portugis, maka Tidore adalah tameng yang menghadang ambisi Spanyol dan kelak menjadi aktor penting dalam sejarah Papua.

Didirikan sekitar abad ke-13, Kesultanan Tidore mulai memeluk Islam tak lama setelah Ternate. Proses Islamisasi berlangsung secara damai lewat jalur perdagangan dan dakwah para ulama serta saudagar dari Arab, Gujarat, dan wilayah Melayu. Raja Tidore pertama yang memeluk Islam adalah Sultan Jamaluddin, yang menjadikan Islam sebagai dasar hukum dan kehidupan kerajaan.

Sebagai penghasil rempah berharga, terutama cengkih, Tidore menjadi magnet bagi bangsa asing. Spanyol masuk ke Tidore dan menjalin kerja sama untuk melawan dominasi Portugis di Ternate. Namun aliansi ini tidak membuat Tidore tunduk sepenuhnya. Kerajaan ini pandai memainkan diplomasi antara Spanyol, Portugis, dan kemudian Belanda, demi menjaga kedaulatan dan mengamankan posisi dalam percaturan politik global.

Kesultanan Tidore tidak hanya menguasai sebagian besar Maluku, tapi juga menjangkau pesisir Papua Barat. Dalam sejarahnya, banyak wilayah di pesisir Papua yang mengakui kedaulatan Sultan Tidore, menjadikan Islam menyebar perlahan ke bumi Cenderawasih.

BACA JUGA:Kesultanan Aceh Darussalam, Benteng Islam dari Ujung Barat Nusantara

BACA JUGA:Mataram Islam: Mengukir Kedaulatan dari Pedalaman Jawa

Relasi Tidore dengan Papua juga tak semata soal politik, tetapi juga perdagangan dan hubungan budaya. Banyak raja-raja kecil di Papua yang diangkat oleh Kesultanan Tidore sebagai bagian dari jaringan kekuasaan dan keislaman di kawasan timur.

Saat kekuatan Belanda menguat, Tidore tetap menunjukkan perlawanan, meski tak seekspansif Ternate. Namun yang menarik, Tidore lebih lihai dalam politik diplomasi. Sultan Nuku (dikenal juga sebagai Muhammad Amiruddin Nuku) adalah tokoh legendaris yang memimpin perlawanan anti-Belanda di akhir abad ke-18. Ia berhasil menyatukan Tidore, Seram, Halmahera, hingga Papua dalam satu poros perjuangan. Sultan Nuku kini dikenang sebagai Pahlawan Nasional Indonesia.

Hingga kini, Kesultanan Tidore masih hidup sebagai simbol budaya dan tradisi Islam di Maluku Utara. Istana Sultan Tidore, Masjid Nurul Jihad, dan festival adat seperti Saro Sake menjadi saksi kekayaan tradisi Islam yang berpadu dengan kearifan lokal.

BACA JUGA:Kesultanan Demak : Titik Awal Kekuasaan Islam di Tanah Jawa

BACA JUGA:Islam di Nusantara, Dari Samudra Pasai ke Jejak Perlawanan

Tag
Share
Berita Terkini
Berita Terpopuler
Berita Pilihan