Radar Seluma.Bacakoran.co

Kesultanan Demak : Titik Awal Kekuasaan Islam di Tanah Jawa

Peta pergerakan Militer Kesultanan Demak--

koranradarseluma.net – Di antara kisah-kisah kejayaan Islam di Nusantara, nama Kesultanan Demak selalu menempati halaman awal. Ia bukan hanya kerajaan Islam pertama di Jawa, tapi juga simbol perubahan zaman: dari Hindu-Buddha menuju Islam, dari kerajaan agraris menuju negara maritim yang terbuka pada dunia.

Demak tumbuh dari pelabuhan kecil yang makmur, dikelilingi oleh pedagang Gujarat, Arab, dan Tionghoa Muslim. Pada akhir abad ke-15, wilayah ini berada di bawah pengaruh Majapahit yang mulai melemah. Saat itulah muncul Raden Patah, tokoh yang diyakini sebagai putra keturunan Majapahit yang memeluk Islam.

Dengan dukungan para Wali Songo, terutama Sunan Ampel, Sunan Bonang, dan Sunan Kalijaga, Demak dideklarasikan sebagai kerajaan Islam sekitar tahun 1475–1480. Ia memindahkan sentralitas politik dari pedalaman ke pesisir, membuka babak baru kekuasaan Islam berbasis niaga, dakwah, dan strategi militer.

BACA JUGA:Cara Ampuh Mengobati Sakit Gigi

BACA JUGA:Islam di Nusantara, Dari Samudra Pasai ke Jejak Perlawanan

Di bawah kepemimpinan Raden Patah dan penerusnya, terutama Sultan Trenggana, Demak menjelma menjadi pusat dakwah Islam. Masjid Agung Demak dibangun bukan hanya tempat ibadah, tapi juga pusat pengajaran, musyawarah, dan diplomasi antar ulama dan penguasa. Desain masjid ini mencerminkan sinergi antara arsitektur lokal dan nilai-nilai Islam.

Demak tak hanya menyebarkan Islam di Jawa, tapi juga ke luar pulau: Sumatra bagian selatan, Kalimantan, bahkan ke Maluku. Dakwah dilakukan lewat seni, budaya, dan perdagangan. Sunan Kalijaga memainkan peran penting dalam membumikan Islam lewat wayang, tembang, dan gamelan, menjadikan Islam akrab di hati rakyat.

Demak juga tampil sebagai penjaga agama. Sultan Trenggana memimpin ekspedisi militer ke Jawa Timur untuk menumbangkan sisa-sisa kerajaan Hindu seperti Majapahit dan Blambangan. Meski membawa semangat Islam, ekspansi ini juga sarat dengan ambisi politik menyatukan Jawa di bawah kekuasaan Islam.

Namun, setelah Trenggana gugur dalam perang di Pasuruan (1546), Demak mulai melemah. Perebutan kekuasaan antar elit istana membawa kehancuran. Tahta akhirnya direbut oleh Arya Penangsang, namun segera digulingkan oleh Jaka Tingkir (Hadiwijaya), yang mendirikan Kesultanan Pajang mewarisi semangat Demak, tapi dengan basis kekuasaan baru di pedalaman.

BACA JUGA:Mughal Empire, Ketika Islam Membentuk Wajah India

BACA JUGA:Andalusia: Cahaya Islam di Tengah Abad Kegelapan Eropa

Meski hanya bertahan sekitar 70 tahun, pengaruh Demak jauh melampaui usia kekuasaannya. Ia meletakkan dasar bagi tumbuhnya Islam sebagai kekuatan utama di Jawa. Dari Demak, lahir Mataram Islam, lalu Banten, Cirebon, dan kerajaan-kerajaan Muslim lainnya.

Warisan arsitektur, dakwah kultural, dan jaringan perdagangan Islam yang dirintis Demak tetap hidup hingga hari ini. Bahkan, dalam nadi bangsa ini yang menyatukan budaya lokal dan nilai-nilai Islam denyut Demak masih terasa.

Tag
Share
Berita Terkini
Berita Terpopuler
Berita Pilihan