Mughal Empire, Ketika Islam Membentuk Wajah India
Taj mahal, India --
koranradarseluma.net – Bila hari ini orang mengagumi Taj Mahal, mungkin tak banyak yang menyadari: bangunan itu adalah bagian dari warisan peradaban Islam terbesar di anak benua India Dinasti Mughal. Lebih dari sekadar monumen cinta, Taj Mahal adalah simbol kejayaan Islam yang pernah menata ulang budaya, arsitektur, dan pemerintahan di India selama berabad-abad.
Kisah ini bermula pada tahun 1526, ketika seorang keturunan Timur Lenk dan Jenghis Khan bernama Babur menaklukkan Sultan Delhi dalam Pertempuran Panipat. Dari sinilah Dinasti Mughal berdiri, dan selama lebih dari 300 tahun, dinasti ini membentuk wajah India dengan corak Islam yang khas namun inklusif.
Puncak kejayaan datang di bawah pemerintahan Akbar Agung (1556–1605), seorang penguasa visioner yang bukan hanya memperluas wilayah, tapi juga membangun sistem birokrasi modern, mendorong toleransi antaragama, dan melindungi hak-hak non-Muslim lewat kebijakan sulh-i-kul (perdamaian universal). Ia bahkan menikahi wanita Hindu dan mengangkat pemuka agama lain ke lingkar kekuasaan.
BACA JUGA:Andalusia: Cahaya Islam di Tengah Abad Kegelapan Eropa
BACA JUGA:Kekhalifahan Abbasiyah: Kilau Peradaban dari Baghdad
Mughal juga terkenal dengan kemajuan seni, ilmu arsitektur, dan sastra. Selain Taj Mahal yang dibangun oleh Shah Jahan, karya arsitektur seperti Benteng Merah, Masjid Jama, dan Makam Humayun menjadi tonggak sejarah perpaduan Islam-Persia-India yang menawan.
Namun seperti peradaban besar lainnya, kekuasaan Mughal pun mulai merosot. Di bawah tekanan kolonialisme Inggris dan perpecahan internal, kekaisaran ini melemah. Hingga akhirnya pada 1858, setelah Pemberontakan Sipahi, Inggris resmi membubarkan Dinasti Mughal dan menjadikan India sebagai koloni.
Meski demikian, jejak Mughal tetap kuat dalam wajah modern India: mulai dari bahasa Urdu, sistem hukum, seni musik dan busana, hingga simbol nasional. Mughal telah membuktikan bahwa Islam tak hanya hadir untuk memerintah, tapi juga membangun, mengayomi, dan menyatukan keragaman.
BACA JUGA:Kesultanan Utsmaniyah: Jejak Peradaban dari Anatolia hingga Istanbul
BACA JUGA:Ketika Sewa Tanah Raffles Gagal Total: Ambisi Kolonial Menabrak Realitas Jawa
