Kekhalifahan Abbasiyah: Kilau Peradaban dari Baghdad
Kekhalifahan Abbasiyah--
koranradarseluma.net – Di balik deru sejarah peradaban Islam, nama Kekhalifahan Abbasiyah berdiri sebagai tonggak yang menjulang. Berpusat di Baghdad, dinasti ini bukan hanya mewarisi tampuk kekuasaan dari pendahulunya, tetapi membentuk ulang wajah dunia Islam dengan ilmu, budaya, dan kekuasaan yang merambat hingga ke Eropa dan Asia.
Didirikan pada tahun 750 M oleh Abu al-Abbas al-Saffah setelah menjatuhkan Dinasti Umayyah, kekuasaan Abbasiyah membuka babak baru dengan memindahkan pusat pemerintahan dari Damaskus ke Baghdad. Di bawah Khalifah al-Mansur, kota ini dibangun menjadi ibu kota megah yang kelak dikenal sebagai “Permata Dunia Islam”.
Masa keemasan Abbasiyah mencapai puncaknya pada era Khalifah Harun al-Rasyid (786–809 M), di mana Baghdad tumbuh menjadi pusat intelektual dunia. Baitul Hikmah (House of Wisdom) berdiri sebagai simbol keagungan peradaban. Di sanalah para ilmuwan Muslim menerjemahkan karya-karya besar dari Yunani, Persia, dan India ke dalam bahasa Arab—menjembatani warisan klasik ke dunia modern.
BACA JUGA:Ketika Sewa Tanah Raffles Gagal Total: Ambisi Kolonial Menabrak Realitas Jawa
BACA JUGA:Hari Kartini, Simbol Emansipasi Perempuan Indonesia
Matematika, astronomi, kedokteran, kimia, hingga filsafat berkembang pesat di bawah naungan Abbasiyah. Nama-nama seperti Al-Khwarizmi, Al-Razi, dan Ibn Sina lahir dari atmosfer keilmuan yang dijaga dengan patronase istana. Kekuasaan bukan hanya dipertahankan dengan pedang, tetapi dengan pena dan pikiran.
Namun seperti banyak imperium besar lainnya, Abbasiyah tak luput dari kemunduran. Perseteruan internal, munculnya kekuatan otonom di provinsi-provinsi, serta tekanan eksternal seperti Perang Salib dan invasi Mongol, perlahan melemahkan fondasi kekhalifahan. Tragedi terbesar datang pada 1258 M, saat pasukan Mongol di bawah Hulagu Khan menyerbu Baghdad, menghancurkan pusat peradaban dunia itu dalam satu generasi.
Meski kekuasaan politik Abbasiyah berakhir di Baghdad, warisan intelektual dan budayanya terus hidup. Sebuah babak baru memang dimulai, namun jejak Abbasiyah tetap tertulis di halaman sejarah dunia menjadi pengingat bahwa kemajuan sejati tak hanya dibangun oleh kekuatan, tetapi oleh ilmu dan kebijaksanaan.
BACA JUGA:Ngasirah: Ibu Sederhana di Balik Kebangkitan RA Kartini
BACA JUGA:Jejak Kolonial di Ujung Samudra: Riwayat yang Tertimbun di Pelabuhan Batavia
