Marsose Pasukan Khusus Kontra-Gerilya Kolonial dalam Perang Aceh
Marsose Pasukan Khusus Kontra-Gerilya Kolonial dalam Perang Aceh--
koranradarseluma.net - Korps Marechaussee te Voet atau sering dikenal dengan Korps Marsose yang dibentuk oleh pemerintah kolonial Hindia Belanda dari elemen-elemen pasukan terbaik dalam KNIL.
Mereka difungsikan sebagai unit taktis kontra perang gerilya yang dilakukan oleh para pejuang Aceh sering membuat pasukan KNIL pada waktu itu kewalahan, akibat serangan dadakan yang dilancarkan para pejuang Aceh.
Pencetus awal dari terbentuknya unit Korps Marsose ini dicetuskan oleh M. Syarif asal Minangkabau yang menjadi kepala Jaksa di Kutaraja.
Syarif yang pro terhadap pemerintah kolonial mengusulkan agar dibentuknya pasukan khusus yang terdiri dari unit-unit kecil yang tangguh serta mobilitas yang tinggi.
Namun sebelum Marsose dibentuk, Pemerintah Kolonial sudah membentuk unit-unit Kontra-Gerilya. Namun hasilnya tak pernah memuaskan sebab para pejuang Aceh lebih menguasai medan ketimbang dari pasukan KNIL sendiri.
Pada 2 April 1890 Korps Marsose resmi dibentuk, dalam melakukan tugasnya unit Korps Marsose mendapat sejumlah keistimewaan daripada para serdadu Kolonial yang lain dar segi kelengkapan persenjataan.
Unit Marsose mendapat senjata api yang lebih baru daripada pasukan serdadu belanda yang lain yaitu sebuah senapan Karabin Mannlicher Belanda (senapan berlaras pendek), serta sebuah klewang yang mana senjata tersebut digunakan untuk memudahkan unit Marsose untuk bermobilisasi di dalam hutan.
Dalam melakukan pertempuran rata-rata Unit Marsose lebih banyak menggunakan Klewang alias senjata jarak dekat ketimbang menembak musuh, mereka hanya menembak jika benar-benar dibutuhkan.
Keistimewaan lainnya adalah Unit Marsose digaji lebih tinggi dibanding serdadu kolonial lainnya.
Bahkan antara unit Marsose yang ada di Jawa dengan Aceh mendapat gaji yang sama meskipun unit Marsose yang ada di Aceh saat itu harus bertugas menumpas gerilyawan Aceh.
Sementara unit Marsose di jawa terbilang lebih santai sebab kondisi jawa saat itu terbilang cukup kondusif tidak separah Aceh. Komposisi unit Marsose terdiri dari para pribumi atau bumiputera dari Maluku, Sulawesi, dan Jawa.
Sedangkan pemimpin unit mereka adalah orang eropa atau orang Belanda, serta dipilih dari pasukan terbaik dalam unit-unit KNIL dikumpulkan dalam Marsose.
Penggunaan para bumiputera dalam Unit Marsose selain karena dapat bertahan, serta lebih memahami medan tropis juga diperuntukan dalam politik Devide et Impera yang diberlakukan oleh Kolonial untuk melemahkan semangat persatuan.
BACA JUGA:Cara Efektif Mengusir Laron dari Rumah
