Radar Seluma.Bacakoran.co

IHSG Terbenam Lagi, Harapan “Ijo Royo-royo” Awal Pekan Kembali Kandas

IHSG Terbenam Lagi, Harapan “Ijo Royo-royo” Awal Pekan Kembali Kandas--

koranradarseluma.net, JAKARTA – Harapan pelaku pasar untuk melihat Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) bergerak menguat pada awal pekan kembali pupus. Pada perdagangan Senin (2/2/2026), IHSG justru melemah dan kembali terbenam di zona merah setelah tekanan jual membayangi pasar.

Berdasarkan data Bursa Efek Indonesia (BEI), IHSG hingga pukul 09.00 WIB berada di level 8.275,62, turun 53,98 poin atau 0,65 persen dibandingkan penutupan sebelumnya. Indeks sempat dibuka menguat di level 8.306,16 dan menyentuh level tertinggi 8.313,06, sebelum akhirnya berbalik arah dan turun ke level terendah 8.250,52.

Nilai transaksi tercatat mencapai Rp1,29 triliun dengan volume perdagangan 14,93 juta lot dan frekuensi 144.270 transaksi, menandakan aktivitas pasar yang cukup ramai meski dibayangi sentimen negatif.

Tekanan terhadap IHSG dipicu oleh faktor domestik, terutama respons pasar atas pengunduran diri Direktur Utama Bursa Efek Indonesia (BEI) serta mundurnya sejumlah pejabat Otoritas Jasa Keuangan (OJK). Kondisi tersebut memicu kekhawatiran pelaku pasar terhadap stabilitas dan arah kebijakan pasar keuangan nasional.

BACA JUGA:Kabar Baik! Harga Emas Antam Melonjak, Kembali Tembus Rp 3 Juta per Gram

Meski IHSG melemah, sejumlah saham justru mencatatkan penguatan signifikan. Saham PT Nusantara Almazia Tbk (NZIA) melonjak 22,88 persen ke level 145, disusul PT Andalan Sakti Primaindo Tbk (ASPI) yang naik 21,74 persen ke 560. Selain itu, saham ESTI, SOHO, dan IKPM juga masuk jajaran top gainers pagi ini.

Analis menilai pelemahan IHSG masih bersifat psikologis dan dipengaruhi sentimen jangka pendek. Secara teknikal, pergerakan indeks dinilai masih berada dalam fase konsolidasi, dengan potensi volatilitas yang cukup tinggi dalam waktu dekat.

Tim riset MNC Sekuritas memperkirakan IHSG berpeluang memasuki fase koreksi dengan area pelemahan di kisaran 7.945–8.189, sementara peluang penguatan berada pada rentang 8.527–8.812.

Selain isu domestik, pelaku pasar juga mencermati rilis data makroekonomi, khususnya data produk domestik bruto (PDB) Indonesia tahun 2025, yang diperkirakan akan menjadi katalis penting pergerakan IHSG dalam beberapa hari ke depan.

BACA JUGA: Milad 5 Tahun BSI, 'Langkah Emas' BSI Jaga Kesehatan

Tag
Share
Berita Terkini
Berita Terpopuler
Berita Pilihan