Radar Seluma.Bacakoran.co

Luca Zidane Pilih Aljazair, Bukan karena Ayah tetapi Kakeknya

Luca Zidane Pilih Aljazair, Bukan karena Ayah tetapi Kakeknya--

koranradarseluma.net - Putra dari legenda sepak bola Prancis peraih Piala Dunia, Zinedine Zidane, yaitu Luca Zidane, telah membuat keputusan mengejutkan dengan beralih kewarganegaraan internasional untuk membela tim nasional Aljazair. Keputusan ini menarik perhatian publik, terutama setelah Luca sebelumnya sempat memperkuat tim junior Prancis. Kiper berusia 27 tahun ini mengungkapkan bahwa kakeknya, ayah dari Zinedine Zidane, Smail Zidane adalah sosok yang memberikan dukungan penuh atas langkah besar yang diambilnya.

Nama Zinedine Zidane sendiri dikenal luas sebagai salah satu pesepak bola Prancis terhebat sepanjang masa. Ia adalah inspirasi utama di balik kemenangan Piala Dunia pertama Prancis pada tahun 1998, di mana ia mencetak dua gol krusial dalam kemenangan 3-0 melawan Brasil di final Paris. Kehebatan sang ayah berlanjut dengan memimpin Les Bleus meraih gelar Euro 2000, sebuah capaian ganda yang belum pernah terjadi sebelumnya dalam sejarah timnas Prancis.

Keputusan Luca untuk berganti kewarganegaraan, apalagi pada usia 27 tahun, datang sebagai kejutan. Luca memilih jalur karier yang berbeda dari sang ayah sejak dini dengan memilih bermain sebagai penjaga gawang, sebuah langkah yang diyakini untuk menghindari perbandingan langsung dengan Zinedine. Kini, ia resmi mengenakan seragam Aljazair, sebuah pilihan yang membawa warisan keluarga yang kuat.

Pergantian kewarganegaraan ini segera membuahkan hasil. Luca dengan cepat dipercaya menjadi kiper utama Aljazair, dan ia melakoni debutnya dalam pertandingan pembuka Grup E Piala Afrika melawan Sudan pada hari Rabu (24/12/2025), di bawah asuhan pelatih Vladimir Petkovic. Pertandingan debutnya pun berakhir manis dengan kemenangan meyakinkan 3-0. Sang ayah, Zinedine Zidane, terlihat turut menyaksikan penampilan perdananya tersebut.

Meskipun tidak terlalu diuji sepanjang pertandingan, Luca Zidane sempat melakukan penyelamatan penting pada peluang berbahaya yang didapatkan oleh Yaser Awad, saat skor masih 1-0. Penampilan ini menunjukkan kesiapan dan komitmennya terhadap tim berjuluk The Fennec Foxes tersebut. Pasca-pertandingan, ia mengungkapkan secara emosional alasan di balik keputusannya yang bersandar pada ikatan keluarga.

BACA JUGA:Dahulu Cari Rumput di Desa, Kini Niki Dapat Medali SEA Games

"Ketika saya memikirkan Aljazair, saya teringat kakek saya. Sejak kecil, kami sudah memiliki budaya Aljazair ini dalam keluarga," tutur Luca kepada BeIN Sports France. 

Luca mengungkapkan bahwa ia berbicara dengan sang kakek sebelum bermain untuk tim nasional Aljazair. Reaksi kakeknya sangat positif, ia mengaku "sangat senang dengan langkah ini."

Dukungan sang kakek tidak hanya berupa restu, tetapi juga motivasi berkelanjutan. "Setiap kali saya menerima panggilan tim internasional, ia menelepon saya dan mengatakan bahwa saya membuat keputusan yang bagus dan bahwa ia bangga pada saya," tambah Luca. 

Hal ini menunjukkan betapa dalamnya pengaruh sang kakek dalam keputusan penting karier internasionalnya.  Zinedine Zidane, yang juga merupakan pemenang Liga Champions 2002 bersama Real Madrid dan peraih Ballon d’Or 1998, juga turut memberikan dukungan. "Dia mendukung saya," kata Luca. 

"Dia berkata kepada saya, 'Hati-hati, ini adalah pilihanmu. Saya bisa memberimu saran, tetapi pada akhirnya, keputusan akhir ada padamu'." 

Dukungan moral dari kedua tokoh penting keluarga ini menjadi fondasi kuat bagi Luca. Luca, yang saat ini bermain di Spanyol untuk Granada setelah mengawali kariernya di Real Madrid, biasanya mengenakan kaus dengan nama "Luca".

Namun, ia memutuskan bahwa seragam tim nasionalnya akan bertuliskan nama "Zidane". Langkah ini diambil sebagai bentuk penghormatan. "Jadi bagi saya, untuk dapat menghormati kakek saya dengan bergabung dengan tim nasional sangatlah penting," ujarnya. Ia menyimpulkan dengan pernyataan penuh makna: "Jersei berikutnya dengan nama di atasnya akan didedikasikan untuknya."

BACA JUGA:SEA Games 2025: Musik Mati, Suporter Tak Gentar Nyanyi Indonesia Raya

Tag
Share
Berita Terkini
Berita Terpopuler
Berita Pilihan