Petani Ngeluh, Gabah Petani Dibeli Rp 5.300 per Kg
Gabah kering-April Yuanda-Koranradarseluma.net
Koranradarseluma.net - Salah satu petani mengeluhkan harga gabah kering panen (GKP) yang hanya dibeli seharga Rp 5.300 per kilogram di lapangan. Harga tersebut dinilai jauh dari harapan dan tidak sesuai dengan kebijakan Harga Pembelian Pemerintah (HPP) yang seharusnya memberikan perlindungan terhadap pendapatan petani.
Disampaikan Effendi salah petani dikonfirmasi kemarin (3/5) mengatakan sesuai dengan yang ditetapkan atau kebijakan pemerintah bahwa gabah Rp 6.600 per kilogram sedang para pelaku usaha membeli gabah kepada petani Rp 5.300 per kilogram. Tentu dengan harga seperti ini petani mengalami kerugian penjualan gabah.
Salah satu petani, Effendi mengatakan bahwa harga gabah saat ini tidak mampu menutup biaya produksi yang terus meningkat. “Kami rugi. Biaya pupuk, sewa lahan, hingga upah pekerja sekarang mahal, tapi harga gabah malah rendah,” terangnya. Untuk gabah kering panen tergantung kualitas dan lokasi.
Namun, harga di lapangan justru berada di bawah ekspektasi petani, yang berharap harga bisa menyentuh minimal Rp 6.000 per kg demi menutupi biaya produksi. Petanii setempat juga menyayangkan lemahnya pengawasan harga dan berharap pemerintah segera turun tangan. “Kalau dibiarkan, petani bisa malas tanam musim depan. Ini bisa memicu krisis pangan jangka panjang,” katanya.
Petani menilai lemahnya peran Bulog dalam menyerap gabah petani menjadi salah satu penyebab harga di lapangan tak terkendali. Idealnya, Bulog melakukan penyerapan gabah sesuai HPP agar petani tidak dirugikan. Namun, di banyak daerah, Bulog hanya mampu menyerap dalam jumlah terbatas, Petani kini berharap pemerintah segera memperkuat regulasi harga gabah di tingkat petani dan memastikan kehadiran Bulog di musim panen. Selain itu, subsidi langsung atau insentif harga dianggap perlu untuk menjaga semangat petani dalam menanam padi di musim berikutnya. "Kami minta sederhana, harga gabah yang layak dan perlindungan petani.” tegasnya.
