Provinsi Sumatera Selatan: Tanah Sriwijaya, Api Perlawanan yang Tak Pernah Padam
Jembatan Ampera, Sumatra Selatan--
Koranradarseluma.net - Di masa kini, Sumatera Selatan dikenal dengan kota Palembang, pempek, dan Sungai Musi. Tapi di balik kulinernya yang mendunia, wilayah ini adalah pusat dari imperium maritim legendaris — Kerajaan Sriwijaya. Kekaisaran yang pernah menguasai perdagangan Asia Tenggara dan menjadi rumah bagi ilmu, agama, dan budaya.
Sriwijaya berdiri sekitar abad ke-7 Masehi dan menjadikan Palembang sebagai ibukota. Wilayah kekuasaannya meliputi sebagian besar Sumatera, Semenanjung Malaya, hingga Thailand Selatan. Catatan Tiongkok, India, dan Arab menyebutnya sebagai negeri makmur yang berjaya karena kontrol atas jalur perdagangan laut.
Sriwijaya bukan hanya kekuatan militer dan dagang, tapi juga pusat studi Buddha Mahayana. Banyak biksu asing seperti I-Tsing singgah di sini untuk belajar sebelum melanjutkan ke India. Ini membuktikan bahwa Sumatera Selatan pernah menjadi poros dunia intelektual dan spiritual.
Namun tak ada kejayaan yang abadi. Pada abad ke-11, Sriwijaya mulai melemah karena serangan dari kerajaan Jawa seperti Colamandala dan Singhasari, hingga akhirnya dikuasai Majapahit. Setelah masa itu, kekuasaan lokal seperti Kesultanan Palembang Darussalam bangkit, menjadi penentu dalam dunia perdagangan dan politik lokal.
Kesultanan ini berkembang pesat, hingga Belanda datang pada abad ke-17. VOC melihat kekayaan Sumsel terutama lada, timah, dan hasil bumi lainnya sebagai incaran. Mereka menggunakan strategi perpecahan dan tekanan ekonomi, hingga pada 1821, Kesultanan Palembang resmi dibubarkan oleh Belanda.
BACA JUGA:Sejarah, Manfaat dan Kontroversi Ganja
BACA JUGA:Provinsi Kepulauan Riau: Tapal Batas yang Menjadi Jantung Maritim Nusantara
Sejarah Sumsel tak lepas dari tokoh-tokoh pemberontak dan patriot. Ki Gede Ing Suro, keturunan raja Majapahit yang membawa Islam ke Palembang, hingga para pejuang rakyat melawan tanam paksa dan eksploitasi tambang.
Di era penjajahan Jepang, Sumatera Selatan menjadi basis penting. Namun rakyat tak diam. Gerakan bawah tanah, sabotase logistik Jepang, dan penyusupan informasi terjadi di banyak titik dari Palembang hingga pedalaman Lahat.
Setelah Proklamasi 1945, Belanda ingin kembali menguasai Palembang. Namun rakyat Sumsel bangkit. Pada 1 Januari 1947, terjadi Pertempuran Lima Hari Lima Malam, ketika rakyat dan tentara republik bertempur sengit melawan tentara Belanda di Palembang. Meski kalah persenjataan, semangat rakyat membuat kota ini dikenal sebagai kota pejuang.
Pertempuran ini bukan sekadar konflik senjata, tapi perlawanan terhadap penjajahan ulang. Ribuan warga sipil ikut membantu logistik, memadamkan api, hingga merawat para pejuang yang luka. Kisah ini menjadi simbol bahwa kemerdekaan bukan hadiah tapi hasil darah dan tekad.
Pada 1948, Sumatera Selatan resmi menjadi provinsi. Kekayaan tambang batu bara di Tanjung Enim, migas di Prabumulih dan Musi Banyuasin, menjadikan Sumsel sebagai lumbung energi nasional.
BACA JUGA:Provinsi Riau: Jantung Melayu yang Terlupakan dalam Sejarah Penjajahan
BACA JUGA:Sumatra Barat: Dari Ranah Minang ke Panggung Revolusi
