Jejak Penjajahan di Tanah Jawara: Sejarah Provinsi Banten dalam Genggaman Imperium

Senin 28 Apr 2025 - 16:17 WIB
Reporter : Bacakoranradarseluma
Editor : Adi Trio Setiawan

Koranradarseluma.net - Provinsi Banten hari ini dikenal sebagai kawasan industri dan perlintasan penting di barat Pulau Jawa. Tapi jauh sebelum itu, Banten adalah sebuah kesultanan kuat yang mengendalikan jalur perdagangan internasional dan menjadi sasaran incaran kolonialisme Eropa. Sejarah penjajahan di Banten menyisakan kisah tentang ketangguhan, pengkhianatan, dan perlawanan yang layak dikenang.

Pada abad ke-16, ketika pelabuhan Sunda Kelapa dikuasai Portugis, kerajaan Islam mulai tumbuh di ujung barat Pulau Jawa. Adalah Sultan Maulana Hasanuddin, putra dari Sunan Gunung Jati, yang mendirikan Kesultanan Banten pada tahun 1526. Kesultanan ini berkembang pesat menjadi pusat perdagangan lada yang penting dan membangun relasi dagang dengan pedagang Arab, Cina, hingga Inggris.

VOC (Vereenigde Oostindische Compagnie) mulai mengincar Banten sejak awal abad ke-17. Terjadi persaingan keras antara Banten dan Batavia (kini Jakarta) yang menjadi basis kekuatan Belanda. Sultan Ageng Tirtayasa, tokoh besar Kesultanan Banten, dengan gagah berani menolak campur tangan Belanda.

BACA JUGA:Dampak Mengonsumsi Ganja, Antara Manfaat dan Risiko

BACA JUGA:Provinsi Bangka Belitung: Tanah Timah, Pengasingan, dan Perlawanan yang Terpendam

Namun pada tahun 1682, terjadi konflik internal antara Sultan Ageng dan putranya Sultan Haji, yang dimanfaatkan VOC. Belanda mendukung Sultan Haji dan berhasil menangkap Sultan Ageng. Sejak itu, kekuasaan Kesultanan Banten mulai runtuh dan VOC menancapkan kukunya di wilayah ini.

Setelah kekuatan Kesultanan Banten meredup, Belanda perlahan-lahan menghapuskan eksistensi politik Banten sebagai entitas independen. Pada abad ke-19, wilayah ini sepenuhnya diintegrasikan ke dalam sistem administrasi kolonial Hindia Belanda. Masyarakat Banten yang dikenal keras dan religius menjadi duri dalam daging bagi Belanda. Perlawanan rakyat terus terjadi secara sporadis.

Salah satu perlawanan besar terjadi pada tahun 1888 di daerah Cilegon. Pemberontakan ini dipimpin oleh para ulama dan jawara, dipicu oleh penindasan ekonomi, tekanan agama (anti-Islam oleh Belanda), dan penderitaan rakyat. Meski berhasil dipadamkan, pemberontakan ini menunjukkan bahwa semangat anti-kolonial tetap menyala di Banten.

Banten terus ikut serta dalam perjuangan kemerdekaan Indonesia. Setelah kemerdekaan, wilayah ini masuk ke dalam Provinsi Jawa Barat. Namun, karena identitas budaya dan sejarahnya yang kuat, akhirnya Banten menjadi provinsi sendiri pada tahun 2000.

BACA JUGA:Provinsi Sumatera Selatan: Tanah Sriwijaya, Api Perlawanan yang Tak Pernah Padam

BACA JUGA:Sejarah, Manfaat dan Kontroversi Ganja

Kategori :