Mengenal Sosok Kapitan Pattimura dan Sejarah Perang Saparua di Maluku

Rabu 16 Apr 2025 - 18:00 WIB
Reporter : Bacakoranradarseluma
Editor : Adi Trio Setiawan

koranradarseluma.net - Kapitan Pattimura, yang memiliki nama asli Thomas Matulessy, lahir pada tanggal 8 Juni 1783 di Haria, Saparua, Maluku. Ia berasal dari keluarga bangsawan, dengan keturunan Raja Sahulau. Sebelum berperang melawan perlawanan penjajahan Belanda, Pattimura pernah berkarir sebagai sersan dalam militer Inggris.

Ketidakpuasan terhadap kebijakan kolonial Belanda yang menindas rakyat Maluku, termasuk melakukan praktik monopoli perdagangan dan pajak yang tinggi, mendorongnya untuk memimpin pemberontakan pada tahun 1817. pada tanggal 14 Mei 1817, terjadi perselisihan tentang penyewaan kapal antara penduduk Portho dan Rumah Gubernur.

Kapal Gubernur Van Middelkoop tenggelam di pelabuhan, berniat mengangkut kayu gelondongan ke Ambon. Saat peristiwa Portho terjadi, terjadilah revolusi rakyat. Bertepatan pada 15 Mei 1817, pertempuran awal di desa Portho serta Haria adalah melawan tentara Belanda. Seorang penduduk Van den Berg, dia tiba ke Haria pada pagi hari buat memeriksa kondisi pasukannya.

Sebab panik, seluruh tentara Belanda serta instansi pemerintah di dasar pimpinan garnisun mengurungnya di Benteng Durstede Pada tanggal 15 Mei, berdasarkan keputusan Konferensi Pulau Besar Saniri yang diadakan di Gunung Umekukuil (Saniri), benteng tersebut diduduki. Pada 16 Mei, Tentara Rakyat mengepung benteng dari segala arah. Reisden panik dan mengirim surat meminta negosiasi. Namun, Patimura yang baru tiba di markas Haria menolak. Setelah membahas strategi dan taktik penyerangan dengan sekutu, Pattimura memberi isyarat invasi.

BACA JUGA:Disentri 1815 Pasca Lestusan Gunung Tambora: Tragedi yang Hampir Musnahkan Peradaban Dunia

BACA JUGA:Potret Industri Timah dan Sejarah Orang Tionghoa di Pulau Bangka Abad Ke-19

Srikandi Martha Christina Tiahahu berada di garis depan semangat juang. Meriam. Duurstede tidak bisa menghentikan serangan sengit Tentara Rakyat. Kemudian, tentara memanjat benteng melalui tangga bambu yang dipimpin oleh Arnold Pattiwael.

Pada 17 Mei 1817, ekspedisi berangkat ke negara Passo dan mencapai Pulau Haruku pada 19 Mei. Guna memperkuat Benteng Silandia di daerah Haruku, Biyetz meninggalkan 55 pasukan. Dia kemudian melanjutkan perjalanan ke Pelauw melalui laut dan darat. Sore harinya, ekspedisi tersebut membawa sepuluh meriam dan sepuluh kora-kora ke Pulau Saparua.

Kabar pergerakan ekspedisi Beetjes langsung sampai di markas Pattimura Haria. Bertepatan pada 18 Mei, Thomas Matulessy menginspeksi markas besar Hulaliu serta merumuskan strategi defensif serta ofensif. Di Pulau Haruku. Bala dorongan Rakyat terus mengalir dari Seram. Bertepatan pada 20 Mei, eskader Beetjes menyeberang dari Hulailiu ke Haria. Tapi kemudian menuju ke Teluk Saparua.

Kapitan Pattimura mengendalikan taktik serta strategi tempur. Dari Teluk Haria hingga pesisir Teluk Saparua, sekitar seribu Tentara Rakyat diatur untuk pertahanan. Langsung ke Benteng Duurstede dari tanjung Paperu. Karena tipu muslihat Pattimura, dia tidak mendarat di pantai pasir putih dekat benteng. Akibat ombak yang besar, kondisi alam menghalangi pendaratan di Pantai Waehenahia sebelah timur benteng.

Taktik dan penipuan Patimura akhirnya memikat kader Biegis ke Pantai Wisisi yang ideal di sisi barat benteng antara negara Tiauw dan Paperu. Di pantai inilah dua pemimpin pertempuran bersaing untuk taktik dan ketangkasan tempur. Beetjes membagi pasukannya menjadi tiga divisi. Ketiganya akan berkendara di sepanjang pantai menuju Fort Duurstede.

Untuk mempercepat berakhirnya perang, Belanda mengambil kebijakan pemberontakan terhadap kapten Desa Patty dan kawan-kawannya. Pada tanggal 11 November 1817 didampingi oleh beberapa pengkhianat. Letnan Pietersen sukses menyergap Pattimura serta Philips Latumahina di suatu desa di negara Booy. Pemimpin perjuangan berturut-turut disergap seta ditangkap. Alhasil mereka ditahan bersama Pattimura di Benteng Nieuw Victoria di Kota Ambon.

Pada bulan Desember, pemimpin perang diadili di pengadilan Ambon. Panitia diketuai oleh JHJ Moorrees, serta anggotanya antara lain JJ Bruins, JH Martens, J. De Keyzer, JH van Schuler, LH. Smith serta G. Reis. Setelah beberapa kali persidangan, putusan diucapkan. Setelah dijatuhi hukuman mati, prajurit itu dieksekusi di tiang gantungan. Upacara militer resmi diadakan.

Semua tentara Belanda slagordes berpartisipasi dalam upacara tersebut. Seluruh masyarakat Ambon menyaksikan upacara tersebut. Pada tanggal 16 Desember 1817, empat pimpinan utama Gerakan Perlawanan Rakyat yaitu Desa Capitan Patty, Anthony Ribek, m Mejor Kisuriya dan Philip Latumina, untuk menenangkan diri dan dengan berani naik ke tiang gantungan.

BACA JUGA:Minuman Herbal yang Baik untuk Penderita Asam Urat

Kategori :